REMAJA:”Manisnya Bila Dicintai” PART 1

Assalammualaikum w.b.t,
“Indahnya bila diri dicintai…”, pernah dengar lirik lagu ini? Yup, ini lirik lagu yang sesuai untuk tajuk yang saya akan nukilkan dalam slot REMAJA. Slot REMAJA ini bertajuk “MANISNYA BILA DICINTAI”…Manis ke? Jom kita sama-sama hayati…Sahabat sekalian yang ku cintai kerana ALLAH, saya lebih cenderung pada kata-kata yang berbunyi “Remaja Hari Ini Penentu Masa Depan Negara”. Senario sekarang menggambarkan bahawa golongan remaja adalah golongan majoriti di Malaysia ini. Namun, jika dicongak berapa orang sahaja yang melangkah kaki ke Masjid & Surau? (Jawab dalam hati,tepuk dada tanya IMAN kita) wahai sahabat sekalian. Hari ini,ramai remaja yang lebih suka dan gemar bersama kawan-kawan bersembang ‘kosong’ di PORT2 tertentu, mengintai dan mengUSHA anak dara yang lalu lalang di hadapan mereka sedangkan NABI MUHAMMAD SAW sudah berpesan pada kita:
~ “Tidak berdua-duaan seorang lelaki dan seorang wanita di tempat sunyi melainkan syaitanlah orang ketiganya.”- Maksud Hadis
Nah,masih kurang mengerti??Em, tidak mengapa..satu persatu kita bisa berubah..Namun ada yang mengatakan, “belum dapat HIDAYAH lagi!Macam mana nak berubah..”Benarkah kata-kata ini??Silap kita memahami dan silap kita tak mahu belajar tentang ISLAM…Bukankah ALLAH berfirman: “Agama yang diredhai di sisi ALLAH SWT ialah ISLAM”. Masa Kini, manusia sibuk memikirkan DUIT berkurangan kerana bersedekah namun mereka tidak pula memikirkan SEDEKAH itu akan membantu mereka bila meninggal dunia kelak. Ayuh kita soroti benar atau tidak “MANISNYA BILA DICINTAI”….JOM!

“Ya Allah…Berikanlah Cinta-Mu Kepadaku,
Jadikanlah Orang Yang Mencintai-Mu Mencintai Aku,
Dan Jadikanlah Aku Mencintai Segala Sesuatu
Yang Membawa Kepada Kecintaan-Mu!”

Wahai REMAJA yang kucintai kerana ALLAH…Sebelum ingin bercinta ingat ayat ini betul2…”HARAM mencintai seorang Wanita jika Lelaki itu tiada langsung niat untuk memperisterikan wanita tersebut”. Nah,sudah faham. Ye, saya pasti semua REMAJA sudah faham. Satu lagi ayat motivasi yang saya ingin kongsikan pada REMAJA ialah:
~CINTA adalah ANUGERAH bukan HAKMILIK kita~
“Rasa cinta pasti ada,pada makhluk yang benyawa…
Sejak lama hingga kini, tetap suci dan abadi…
Takkan hilang selamanya,sampai dating akhir masa…
RENUNGKANLAH…”

REMAJA sekalian…anda mungkin sering bertanya apakah ciri-ciri cinta yang terbaik…kadangkala persoalan dibawah ini kerap bermain di fikiran anda..JOM Kita ikuti soalan-soalan tersebut:-
Remaja kerap bertanya dalam diri:-
• Apa sebenarnya CINTA ini?
• Tolong beri penjelasan tentang CINTA!
• Salahkah Bercinta?
• Cinta ada peraturan?
• Cita-cita vs CINTA

Ye..ini soalannya…Insya-Allah REMAJA sekalian…saya akan sambung dalam episod dan nukilan saya yang akan datang…
~Abe.Cute~

Kisah Puteri Rasulullah SAW

Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”. Fathimah rha. berkata, “ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis”. Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”. Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT.

Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.
Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, “berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”, maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.
Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, “jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “teruskanlah ‘amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”. Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat”.

Renungan Di Tinta Berbicara,
~Abe.Cute~

~ANDAI MASA BELUM TERHENTI~

Ketika Diri Menabur Bakti,
Seisi Dunia Bagai Terhenti,
Menyambut Jiwa Sedia Menanti,
Kasih Ilahi Kasih Yang Suci…

Berjalan Pasti Tanpa Senjata,
Hanya ILMU Penuh Di Dada,
Sekian Lama Memendam Rasa,
Badai Semalam Membuka Cerita…

Resah Gelora Bersimpul Luka,
Janji Menerjah Sebening Suara,
Tunduk Menyerah Hanya Jika,
Hilang Di Ruang Jiwa Lara…

Setia Bersemi Sedia Dihuni,
Laluan Kini Penuh Berduri,
Tekad Semalam Buat Insani,
Melakar Sejarah Tersendiri…

Mampu Berkata Mampu Berbicara,
Duka Nestapa Semua Kehendak-Nya,
Andai Takdir Hebat Melanda,
Doa Usaha Tawakal Pada-Nya…

Pesan Ini Buat SEMUA,
Andai Lemah, Ingatlah DIA,
Sering ADA Setiap MASA,
Buatlah Amal Jalan Ke SYURGA….

Nukilan KHAS dari HATI…SELASA,7:05pm…Pusat Kaunseling MAINS Caw. REMBAU…21/2/2012

Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah.

“Wahai umatku, kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.” Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,

“Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah,

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan Kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggil Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan risau, wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. Ya Allah, dahsyat sungguh maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Sahabat-sahabat muslim sekalian, marilah kita renungkan kembali pengorbanan Rasulullah kepada umatnya lainnya, betapanya cintanya Rasulullah kepada umatnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

PEMERGIANMU

(Ya Rasulullah…)
Kau masih tersenyum mengubat lara
Selindung derita yang kau rasa
Senyuman yang mententeramkan
Setiap insan yang kebimbangan

Hakikatnya, tak tertanggung lagi derita
Di pangkuan isterimu Humaira
Menunggu saat ketikanya
Di angkat rohmu bertemu Yang Esa

Tangan dicelup di bejana air
Kau sapu di muka mengurangkan pedih
Beralun zikir menutur kasih
Pada umat dan akhirat

Dan tibalah waktu ajal bertamu
Penuh ketenangan jiwamu berlalu
Linangan air mata syahdu
Iringi pemergianmu

Oh sukarnya untuk umat menerima
Bahkan payah untuk Umar mempercaya
Tetapi iman merelakan jua
Bahawa manusiakan mati akhirnya

Tak terlafaz kata mengungkap hiba
Gerhanalah seluruh semesta
Walaupun kau telah tiada
Bersemarak cintamu selamanya

Ya Rasulullah
Kau tinggalkan kami warisan yang abadi
Dan bersaksilah sesungguhnya
Kami merinduimu

Dari Tinta Berbicara,
NicenizaR a.k.a Sang Penyair

{Abbas bin Abdul Muththalib}

“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang”. (Q.,s. al-Anfaal : 7)
Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.

Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu

Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku.”
Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai’at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.

Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazamya itu
Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada’-nya. Ia meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma’bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.

Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katamya, ia memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, “Kau lebih baik tinggal di Mekah “.
Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi’, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya.”
Ia selalu menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ka’bah. Ka’ab bin Malik mengutarakan, “Kami (saya dan al-Barra’ bin Ma’rur) mencari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, ‘Apakah kalian berdua mengenalnya?’ Kami menjawab, ‘Tidak!’. Ia lalu bertanya, ‘Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?’
Kami menjawab, ‘Ya!’ Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, ‘Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!”.
Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di sebelahnya”.

Abbas radhiallahu ‘anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah. Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata
“Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur.”
Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. Ia lalu berkata lagi, “Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?”.
Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, “Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami”.
Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, “Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?”.
“Ya, lengkap,” jawab mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah bersabda, “Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa”.

Keterangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah, yang berucap dengan lantang, “Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!”
Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul Khaththab, “Ya Aba Hafsah,ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!”

“Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik,” ucap Umar.
Akan tetapi, Rasulullah tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, “Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah kaku yucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!” Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.
Pada suatu hari, Abbas pergi berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.telah membemberikan sebidang tanah kepadanya berdekatan dengan tempat kediamannya.
Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata, “Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!”
Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , lalu beliau mengumpulkan kaum muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata’âla dan bersabda, “Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhânahu wata’âla?”
“Engkau, ya Rasulullah!” jawab hadirin.
“Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup.”
Kabilah orang itu datang mengahadap Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah.”
Pernyataan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas radhiallâhu ‘anhu. tentang sabdanya, “Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku.”
Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh harap, “Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?”
Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, “Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan.”
Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam., tetapi malah Ali bin Abi Thalib radhiallâhu ‘anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, “Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!”
Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya ,”Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang.”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesemopatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.

Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, “Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Menjawab, “Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!”
Sesudah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.menuiakan risalah Alalh Subhânahu wata’âla dengan baik, manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu.
Abbas hidup terhormat di bawah pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu ‘anhu..
Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai shalat, datanglah Abbas seraya berkata, “Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam..”
Khalifah Umar menjawab, “Aku mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan menaiki pundakku.”
Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu.
Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam itu.
Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian menjadi kecil karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?
Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, “Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu’minin yang belum. Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu’minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid.”
Abbas menjawab, “Aku tidak mau.”
Umar berkata; “Pilihlah satu diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan masjid mereka.”
Abbas berkeras, “Aku tidak mau terima semaunya.”
Umar berharap, “Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.’
Abbas menjawab, “Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka’ab.”
Keduanya pergi menemui Ubai bin Ka’ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.
Ubai berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Subhânahu wata’âla pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, ‘Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.’ Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah Subhânahu wata’âla lalu mewahyukan kepadanya, ‘Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah membangunnya!’ Nabi Daud menjawab, ‘Ya Allah, aku lakukan pada anakku!’ Allah berfirman lagi, ‘Siapa anakmu?”"
Khafilah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka’ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, “Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum muslimin!”
Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan shahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu.Umar lalu berkata kepada para hadirin, “Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Alalh memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat orang menyebut-nyebut namaNya?”
Abu Dzar radhiallâhu ‘anhu menjawab’ “Ya, saya mendengar!” Disambut oleh yang lain, “Ya, saya juga mendengar!” Dari sudut sana ada pula yang menyambung, “Saya juga mendengar!”
Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu lalu berkata kepada Abbas radhiallâhu ‘anhu, “pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu.”
Abbas radhiallâhu ‘anhu berkata, “Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah.”
Memang Khalifah Umar radhiallâhu ‘anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesehjahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum muslimin.
Demikian tokoh-tokoh model “sekolah Rasulullah” dan “sekolah Al-Qur’anul Karim” radhiallahu ‘anhum ajma’in. Mereka angkatan kaum muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.
Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka’ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutrarakan, “Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka.”
Umar berakta, “Ini dia paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim.”
Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, “Ya Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!”
Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata’âla, “Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu”.
Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir.”
Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah Subhânahu wata’âla. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhânahu wata’âla dan mengucapkan selamat kepada Abbas, “Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah.”
Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, “Paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.!”
Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas radhiallâhu ‘anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakkannya Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi’ di Madinah, rahimullah wa radhiallahu’anhu.

Sebab Turunnya Ayat

Dalam Perang Badar yang berkecamuk antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Abbas berhasil ditawan oleh Abul Yusr, Ka’ab bin Amru, yang menurut Ahli sejarah kedua tangannya kurus dan perawakannya juga lemah, sedangkan Abbas seorang yang tinggi besar. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bertanya keheranan, “Ya Abal Yusr, bagaimana kau bisa menawan Abbas?”
“Ya Rasulullah, aku dibantu oleh seorang yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudah itu (lalu ia mengutarakan ciri-ciri dan perawakan orang itu),” jawab Abul Yusr.
“Kau dibantu oleh seorang malaikat yang pemurah,” sabda Rasulullah.
Ketika Abbas jatuh sebagai tawanan, pertanyaan pertama yang terlontar adalah tentang keadaan Muhammad kepada yang menawannya, “Bagaimana keadaan Muhammad dalam peperangan ini?”
“Allah memuliakan dan menenangkannya,” jawabnya.
“Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?” tanya Abbas
“Rasulullah melarang kami membunuhmu,” jawabnya.
“Itu bukan kebaikannya yang pertama.”
Abbas diborgol dan dikumpulkan bersama tawanan perang lainya. Kiranya, ikatannya terlalu keras sehingga ia merintih kesakitan. Ternyata rintihan itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Berapa orang shahabat yang melihatnya belum tidur, menegurnya, “Wahai Nabi Allah, sudah jauh malam, engkau belum tidur?”
“Aku mendengar riuntihan Abbas,” jawab Nabi.
Orang itu lalu pergi melonggarkan ikatannya, kemudian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.bertanya lagi, “Mengapa sekarang aku tidak mendengarkan rintihannya?”
“Aku longgarkan ikatannya, ya Rasulullah,” jawab shahabat
“Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya,” perintah Nabi.
Pagi harinya, semua tawanan dihadapkan kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Akhirnya, sampai giliran Abbas.
Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya Abbas, tebuslah dirimu dan keponakanmu aqil bin Abi Thalib, Naufal bin al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amru bin Jahdam karena engkau seorang kaya.”
“Ya Rasulullah, saya ini seorang Muslim, tetapi saya dipaksa ikut berperang oleh mereka,” ucap Abbas.
“Allah saja yang Maha Tahu dengan keislamanmu itu: kalau pengakuanmu itu benar, Allah akan mengganjarmu, namun aku melihatmu dari segi lahirmu maka bayarlah tebusanmu itu.”
‘Aku tidak mempunyai uang, ya Rasulullah.”
“Mana uang yang kau simpan pada Ummul Fadhal, isterimu, ketika kau hendak keluar ikut berperang, lalu pesanmu kepadanya, ‘Kalau aku tewas dalam peperangan, uang itu dibagi-bagikan antara kau, Fadhal, Abdullah, Ubaidullah, dan Qatsam.’?” tanya Rasulullah.
“Dari mana kau tahu ini padahal aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapa pun?” tanya Abbas keheranan.
“Allah Subhânahu wata’âla Yang memberitahukan rahasiamu itu,” jawab Nabi.
“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur.”
Pada saat itu, turunlah firman Allah Subhânahu wata’âla.
“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:”Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.,S. al-Anfal: 70)
Abbas berkomentar, “Allah berkenan menepati janji-Nya kepadaku, memberikan kebaikan lebih dari apa yang diambil: 20 uqiyah diganti dengan 20 orang budak. Kini, aku sedang menantikan pengampun-Nya. Aku diberi kuasa mengurus air zamzam dan aku bisa merasa bangga lebih dari itu, meskipun aku memiliki semua harta penduduk kota Mekkah. Kini, aku sedang menantikan pengampunan-Nya.”
Akan tetapi, darimana ia memiliki harta bila membeli dua puluh orang budak dan tiap budak memiliki modal edar yang diperdagangkan?
Ibnu Sa’ad dalam bukunya, ath-Thabaqat al-kubra, menyebutkan bahwa al-Ala’ bin al-Hadhrami mengirimkan kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Harta benda sebanyak 80.000. Belum pernah Nabi menerima lebih dari itu. Kemudian Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengundang kaum muslimin. Begitu mereka melihat timbunan harta itu, penuh sesaklah masjid dengan orang-orang. Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan hartra itu seolah-olah tanpa perhitungan dan pertimbangan, masing-masing diberikan segenggam.
Abbas datang, lalu berkata kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam., “Ya Rasulullah, aku telah memberikan tebusanku dan tebusan Aqil bin Abi Thalib dalam perang Badar. Aqil tidak punya uang penggantinya. Berikan aku dari uang ini!”
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tertawa lebar sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, “Harta itu diambil seperlunya; yang lain dikembalikan!”
Ia lalu pergi dengan mengambil seperlunya, seraya berucap, “Janji Allah kepadaku, yang satu sudah ditepati dan yang lain aku belum tahu!”

Renungan

Abas bin Abdul Muththalib radhiallâhu ‘anhu, paman Rasululah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan saudara kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.
Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu, membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.

Ia memberikan gambaran kepada mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup mereka jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan mulus kecuali kalau mereka terpaksa.
Pada akhir perundingan, sesudah ia yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit mempertemukan tangan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan tangan wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai, disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata’ala mudah-mudahan persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan hidayah-Nya.
Ketika Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana. Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh’afin di Mekah yang belum bisa hijrah meninggalkan Mekah.
Abbas patuh kepada perintah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.
Pada permulaan Islam, Abbas banyak melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini, alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.
Ia menjadi tawanan dalam Perang Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.

Tawanan lain harus, membayar uang tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal salehnya.
Pada suatu hari, Khalifah Umar ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. Sesudah diberitahukan bahwa pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu. Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan pemasangan pancuran.
Tiba giliran Umar untuk memperluas masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan hukum agama.
Sikap Umar untuk menggusur rumah Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum muslimin, sesudah Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai paksaan dan kekuasaannya. (Senin, 16/7/2001=24/4/1422)

Perkongsian KHAS,
NicenizaR a.k.a Sang Penyair

{ABBAD BIN BISYIR}

ABBAD BIN BISYIR
SELALU DISERTAI CAHAYA ALLAH

Ketika Mush’ab bin Umeir tiba di Madinah-sebagai utusan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasalam untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah bai’at kepada Nabi dan membimbing mereka melakukan shalat, maka’Abbad bin Bisyir radhiallahu anhu adalah seorang budiman yang telah dibukakan Allah hatinya untuk menerima kebaikan. la datang menghadiri majlis Mush’ab dan mendengarkan da’wahnya, lain diulurkan tangannya mengangkat bai’at memeluk Islam. Dan semenjak saat itu mulailah ia menempati kedudukan utama di antara orang-olang Anshar yang diridlai oleh Allah serta mereka ridla kepada Allah ….

Kemudian Nabi pindah ke Madinah, setelah lebih dulu orang-orang Mu’min dari.Eulekah tiba di sana. Dan mulailah terjadi peperangan-peperangan dalam mempertahankan diri dari serangan-serangan kafir Quraisy dan sekutunya yang tak henti-hentinya memburu Nabi dan ummat Islam. Kekuatan pembawa cahaya dan kebaikan bertarung dengan kekuatan gelap dan kejahatan. Dan pada setiap peperangan itu ‘Abbad bin Bisyir berada di barisan terdepan, berjihad di jalan Allah dengan gagah berani dan mati-matian dengan cara yang amat mengagumkan ….
Dan mungkin peristiwa yang kita paparkan di bawah ini dapat mengungkapkan sekelumit dari kepahlawanan tokoh Mu’min ini….
Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan Kaum Muslimin selesai menghadapi perang Dzatur Riqa’, mereka sampai di suatu tempat dan bermalam di sana, Rasulullah shallallahu alaihi wasalam :memilih beberapa orang shahabatnya untuk berkawal secara bergiliran. Di antara mereka terpiiih ‘Ammar bin Yasir dan ‘Abbad bin Bisyir yang berada pada satu kelompok.

Karena dilihat oleh ‘Abbad bahwa kawannya ‘Ammar sedang lelah, di usul kannyalah agar ‘Ammar tidur lebih dulu dan ia akan berkawal. Dan nanti bila ia telah mendapatban istirahat yang cukup, maka giliran ‘Ammar pula berkawal menggantikannya.
‘Abbad melihat bahwa lingkungan sehelilingnya aman. Maka timbullah fikirannya, kenapa ia tidak mengisi waktunya dengan melakukan shalat, hingga pahala yang akan diperoleh akan jadi berlipat … ? Demikianlah ia bangkit melakukannya ….
Tiba-tiba sementara ia berdiri sedang membaca sebuah surat Al-Quran setelah al-Fatihah sebuah anak panah menancap di pangkal lengannya. Maka dicabutnya anak panah itu dan diteruskannya shalatnya…..

Tidak lama antaranya mendesing pula anak panah kedua yang mengenai anggota badannya.
Tetapi ia tak hendak menghentikan shalatnya hanya dicabutnya anak panah itu seperti yang pertama tadi, dan dilanjutkannya bacaan surat.
Kemudian dalam gelap malam itu musuh memanahnya lalu untuk ketiga kalinya. ‘Abbad menarik anak panah itu dan mengakhiri bacaan surat. Setelah itu ia ruku’ dan sujud …,sementara tenaganya telah lemah disebabkan sakit dan lelah.

Lalu antara sujud itu diulurkannya tangannya kepada kawanya yang sedang tidur di sampingnya dan ditarik-tariknya ia sampai terbangun.
Dalam pada itu ia bangkit dari sujudnya dan membaca tasyahud, lalu menyelesaikan shalatnya.
‘Ammar terbangun mendengar suara kawannya yang tak putus-putus menahan sakit: “Gantikan daku mengawal …, karena aku telah kena… !”‘Ammar menghambur dari tidurnya hingga menimbulkan kegaduhan dan takutnya musuh yang menyelinap. Mereka melarikan diri, sedang ‘Ammar berpaling kepada temannya seraya katanya: “Subhanallah … ! Kenapa saya tidak dibangunkan ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi…,” Ujar ‘Abbad: -
“Ketika daku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat al-Quran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya … ! Dan demi Allah, aku tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita menjaganya, sungguh, aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu … !”

‘Abbad amat cinta sebali kepada Allah, kepada Rasul dan kepada Agamanya …. Kecintaan itu memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan semenjak Nabi shallallahu alaihi wasalam berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada Kaum Ansbar, ia termasuk salah seorang di antara mereka. Sabdanya:
“Hai golongan Anshar… !
Kalian adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit ari!
Maka tak mungkin aku dicederai oleh pihak kalian ..,!”
Semenjak itu, yakni semenjak ‘Abbad mendengar ucapan ini dari Rasulnya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, dan ia rela menyerahkan harta benda nyawa dan hidupnya di jaIan Allah dan di JaIan Rasul-Nya …, maka kita temui dia di arena pengurbanan dan di medan iaga muncul sebagai orang pertama, sebaliknya di waktu pembagian keuntungan dan harta rampasan, sukar untuk ditemubannya
Di samping itu ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun …, seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang …,seorang dermawan yang rela berqurban …,dan seorang mu’min sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanannya ini … !
Keutamaannya ini telah dikenai luas di antara shahabat-shahabat Rasul. Dan Aisyah radhiallahu anha Ummul Mu’minin pernah mengatakan tentang dirinya: Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tak dapat diatasi oleh seorang pun juga yaitu:
Sa’ad bin Mu’adz, Useid bin Hudlair dan ‘Abbad bin Bisyir… !”

Orang-orang Islam angkatan pertama mengetahui bahwa ‘Abbad adalah seorang tokoh yang beroleh karunia berupa cahaya dari Allah …. Penglihatannya yang jelas dan beroleh penerangan, dapat mengetahui tempat-tempat yang baik dan meyakinkan tanpa mencarinya dengan susah-payah. Bahkan kepercayaan shahabat-shahabatnya mengenai cahaya ini sampai ke suatu tingkat yang lebih tinggi, bahwa ia merupakan benda yang dapat terlihat. Mereka sama sekata bahwa bila ‘Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah daripadanya berkas-berkas cahaya dan sinar yang menerangi baginya jalan yang akan ditempuh ….
Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasalam maka ‘Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya … i Apalagi dalam pertempuran Yamamah di mana Kaum Muslimin menghadapi balatentara yang paling kejam dan paling berpengalaman dibawah pimpinan Musailamatul Kaddzab, ‘Abbad melihat bahaya besar yang mengancam Islam. Maka jiwa pengurbanan dan teras kepahlawanannya mengambil bentuk sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya, dan meningkat ke taraf yang sejajar dengan kesadarannya akan bahaya tersebut, hingga menjadikannya sebagai prajurit yang berani mati, yang tak menginginkan kecuali mati syahid di jalan Ilahi ….
Sehari sebelum perang Yamamah itu dimulai,’Abbad mengalami suatu mimpi yang tak lama antaranya diketahui Ta’birnya secara gamblang dan terjadi di arena pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin.

Dan marilah kita panggil seorang shahabat mulia Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu anhu untuk menceritakan mimpi yang dilihat oleh ‘Abbad tersebut begitu pun Ta’birnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya….
Demikian cerita Abu Sa’id: ” ‘Abbad bin Bisyir mengatakan kepadaku: — “Hai Abu
Sa’id! Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi … !
Saya yakin bahwa ta’birnya insya Allah saya akan menemui syahidnya … !” “Demi Allah!” ujarku, “itu adalah mimpi yang baik … !”
“Dan di waktu perang Yamamah itu saya lihat ia berseru kepada orang-orang Anshar: “Pecahkan sarung-sarung pedangmu dan tunjukkan kelebihan kalian .. !”
Maka segeralah menyerbu mengiringkannya sejumlah empat ratus orang dari golongan Anshar hingga sampailah mereka ke pintu gerbang taman bunga, lalu bertempur dengan gagah berani.

Ketika itu ‘Abbad — semoga Allah memberinya rahmat menemui syahidnya. Wajahnya saya lihat penuh dengan bekas sambaran pedang, dan saya mengenalnya hanyalah dengan melihat tanda yang terdapat pada tubuhnya … !”
Demikianlah ‘Abbad meningkat naik ke taraf yang sesuai untuk memenuhi kewajibannya sebagaiseorang Mu’min dari golongan Anshar, yang telah mengangkat bai’at kepada Rasul untuk membaktikan hidupnya bagi Allah dan menemui syahid di jalan-Nya …
Dan tatkala pada permulaannya dilihatnya neraca pertempuran sengit itu lebih berat untuk kemenangan musuh, teringatlah olehnya ucapan Rasulullah terhadap Kaumnya golongan Anshar:
– “Kalian adalah inti … ! Maka tak mungkin saya dicederai oleh pihak kalian!”
Ucapan itu memenuhi rongga dada dan hatinya, hingga seolah-olah sekarang ini Rasulullah masih berdiri, mengulang-ulang kata-katanya itu … ‘Abbad merasa bahwa seluruh tanggung jawab peperangan itu terpikul hanya di atas bahu golongan Anshar semata …atau di atas bahu mereka sebelum golongan lainnya … ! Maka ketika itu naiklah ia ke atas sebuah bukit lalu berseru: — “Hai golongan Anshar … ! Pecahkan sarung-sarung pedangmu, dan tunjukkan keistimewaanmu dari golongan lain… !”
Dan ketika seruannya dipenuhi oleh empat ratus orang pejuang, ‘Abbad bersama Abu Dajanah dan Barra’ bin Malik mengerahkan rnereka ke taman maut, suatu taman yang digunakan oleh Musailamah sebagai benteng pertahanan…..dan pahlawan besar itu pun berjuanglah sebagai layaknya seorang laki-laki, sebagai seorang Mu’min …, dan sebagai seorang warga anshar ….
Dan pada hari yang mulia itu, pergilah ‘Abbad menemui syahidnya .,. ! Tidak salah mimpi yang dilihat dalam tidurnya semalam ,,. ? Bukankah ia melihat langit terbuka, kemudian setelah ia masuk ke celahnya yang terbuka itu, tiba-tiba langit
bertaut dan tertutup kembali… ! Dan mimpi itu dita’wilkannya bahwa pada pertempuran yang akan terjadi ruhnya akan naik ke haribaan Tuhan dan penciptanya…
Sungguh, benarlah mimpi itu dan benarlah pula ta’birnya … ! Pintu-pintu langit telah terbuka untuk menyambut ruh ‘Abbad bin Bisyir dengan gembira, yakni searang tokoh yang oleh Allah diberi cahaya….

Perkongsian KHAS,
NicenizaR a.k.a Sang Penyair

Mimpi-Mimpi Rasulullah S.A.W

Daripada Abdul Rahman Bin Samurah .a. berkata, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Sesunguhnya aku telah mengalami mimpi yang MENAKJUBKAN pada malam kelmarin….

* Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatangi malaikatul maut
untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang disebabkan
KETAATAN KEPADA KEDUA IBU-BAPANYA.

* Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur, maka ia
telah diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA.

* Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh
syaitan-syaitan, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA kepada Allah.

* Aku melihat bagaimana umatku diseret oleh malaikatul azab, tetapi
SOLATNYA telah melepaskannya dari seksaan itu.

* Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia
mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya, ketika itu datanglah
pahala PUASANYA memberi minum hingga ia merasa puas.

* Aku melihat umatku cuba untuk mendakati kumpulan para nabi yang
sedang duduk berkumpul-kumpul, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka
menjelmalah MANDI JUNUBNYA sambil memimpinnya ke kumpulanku seraya
duduk di sebelahku.

* Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadaan gelap gelita,
di hadapannya gelap, di belakangnya gelap, di bawahnya gelap sedangkan
dia sendiri dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN
UMRAHNYA lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang
benderang.

* Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi
mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SILATURRAHIMNYA
lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicaralah
mereka dengannya.

* Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka
segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA lalu menabiri muka dan kepalanya
dari bahaya api tersebut.

* Aku melihat umatku sedang diseret oleh malaikatul zabaniah ke merata
tempat, maka datanglah pahala AMAR MA’RUF NAHI MUNGKARNYA seraya
menyelamatkan dia dari cengkaman tersebut dan diserahkan kepada malaikat
rahmat.

* Aku melihat juga umatku sedang merangkak-rangkak, di antaranya dengan
Tuhan dipasangkan hijab, maka menjelmalah BUDI DAN AKHLAKNYA
memimpinnya sehingga terbuka hijab tersebut dan masuklah dia bertemu dengan
Tuhannya.

* Aku melihat umatku didatangi buku catatan daripada sebelah kiri,
tiba-tiba datanglah pahala TAKUTNYA KEPADA ALLAH lalu menukarnya ke sebelah
tangan kanan.

* Aku melihat seorang umatku terangkat timbangannya, maka menjelmalah
ANAK-ANAKNYA YANG MATI KECIL lalu menekan timbangan hingga menjadi
berat.

* Aku melihat umatku sedang berada di tepi neraka jahannam, tiba-tiba
muncullah PERASAAN GERUNNYA TERHADAP SEKSAAN ALLAH lalu membawa dia jauh
dari tempat itu.

* Aku melihat umatku terjerumus ke lembah neraka, lalu datanglah AIR
MATANYA YANG PERNAH MENGALIR KERANA TAKUT KEPADA ALLAH, menyelamatkannya.

* Aku juga melihat umatku sedang meniti titian sirat dalam keadaan
tubuhnya terketar-ketar seperti bergoncangnya dedaun yang ditiup angin,
maka datanglah pahala BERBAIK SANGKA DENGAN ALLAH lalu mententeramkannya
melalui titian tersebut sehingga ke penghujungnya.

* Aku melihat umatku sedang meniti titian sirat dalam keadaan merangkak
dan meniarap lalu datanglah SOLATNYA merayu kepadaku dan akupun
memimpin tangannya dan mengajaknya berdiri serta berjalan hingga ke hujungnya.

* Aku melihat umatku sudah hampir tiba di pintu syurga tetapi tiba-tiba
pintu syurga tertutup, di waktu itu muncullah PENYAKSIANNYA BAHAWA
TIADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH MELAINKAN ALLAH membukakan kembali pintu
itu dan diapun memasukinya.

* Aku melihat ramai orang sedang meggunting lidah mereka. Aku bertanya
kepada Jibril siapa mereka? Jawab Jibril, itulah orang-orang yang suka
membawa mulut kesana sini.
Aku juga melihat orang yang digantung lidah mereka. Aku bertanya kepada
Jibril siapa pula mereka? Jawab Jibril itulah pembalasan orang yang
suka menabur fitnah kepada orang-orang yang beriman tanpa bukti.

Semoga menjadi pedoman untuk diamalkan dan disampaikan….

*Sesungguhnya mata yang tidak pernah menangis takutkan Allah dan
neraka itu adalah disebabkan oleh hati yang beku(pEacE tO bE In ISLAM)…

Salam Penuh Ingatan,
NicenizaR a.k.a Sang Penyair

Saidina Umar Al-Khattab

KHALIFAH UMAR AL-KHATAB
Umar Al-Faruq

Biodata

Nama sebenar : Umar b Al-Khattab b Nufail b Abdul Uzza b Ribaah b Abdillah b Qarth b Razaah b ‘Adi b Kaab
Nama Ibu : Hantamah bte Hasyim bin Al-Mughirah bin Abdillah bin Umar bin Makhzum.
Gelaran : Al-Faruq
Keturunan : Arab Quraisy (Kabilah Bani Adi)
Tarikh lahir : 13 tahun selepas berlakunya peristiwa Abrahah (menurut Imam Nawawi)
Jawatan : Khalifah Ar-Rasyidin Kedua
Tarikh Lantikan : 634M
Tempoh Jawatan : 10 tahun
Tarikh M/Dunia : 23H @ 644M
Umur : 63 tahun

Semasa sebelum memeluk Islam, beliau merupakan duta bagi kaumnya terutama untuk mengadakan perundingan antara kabilah yang bermusuhan. Beliau merupakan mertua Rasulullah SAW apabila Rasulullah bernikah dengan anaknya, Hafsah bte Umar. Beliau salah seorang yang dijamin Syurga oleh Rasulullah SAW. .

Sifat Peribadi Umar al-Khattab

Ubaidullah bin Umar menceritakan bahawa suatu hari para sahabat melihat Umar memikul tempat air di bahunya. Lalu mereka bertanya : “Wahai Amirul Mukminin ! Mengapa tuan sendiri yang memikul air ini ?” Jawab Umar al-Khattab : “Saya merasakan bahawa diri saya telah takbur, lalu saya mengangkat air ini untuk menundukkannya”

Kata Aslam beberapa orang berbicara dengan Abdul Rahman bin Auf. Kata mereka : “Umar al-Khattab telah menimbulkan rasa takut kami sehingga mata kami tidak berani bertentangan mata dengannya”. Hal ini diadukan oleh Abdul Rahman bin Auf. Lalu Umar al-Khattab berkata : “Benarkah mereka berkata demikian ?” “Demi Allah, saya telah cuba melunakkannya, sehingga lantaran lunak saya itu saya takut dimarahi Allah. Saya cuba pula dengan sikap keras sehingga saya takut Allah marah kepada saya. Bagaimanakah lagi ? Bagaimana nasib saya yang berbeza dengan mereka ?”

Diriwayatkan oleh Umar bin Murrah bahawa seorang lelaki bertemu dengan Umar al-Khattab dan berkata : “Bersikap lunaklah kepada kami, sebab kami amat gentar melihatmu !” Umar menjawab : “Adakah saya berbuat sesuatu yang zalim ? ” Jawab lelaki itu : “Tidak” Kata Umar lagi : “Kalau begitu, biarlah Allah menambah rasa takut dalam hatimu terhadapku”

Menurut Barrak bin Makrur : “Pada suatu hari Umar al-Khattab naik ke mimbar untuk memberi tazkirah, tiba-tiba dia merasa sakit. Menurut para jamaah, ubatnya adalah madu lebah dan di Baitulmal banyak tersimpan madu lebah” Kata beliau : “Kalau tuan-tuan izinkan, saya akan gunakannya, tetapi kalau tidak diizinkan haram ke atas saya mengambilnya”

Keislaman Saidina Umar

Beliau memeluk Islam pada tahun ke 6 kenabian ketika berumur 27 tahun. Tindakannnya ini mengemparkan masyarakat Quraisy dan memberi berita gembira kepada umat Islam bahawa Islam akan menjadi kuat.

Rasulullah SAW pernah berdoa ; “Ya Allah kuatkan Islam dengan Umar Al-Khatab atau Abu Jahal b. Hisyam” Hadtih riwayat At-Thabarani

Dalam sebuah hadith lain yang diriwayatkan oleh At-Thabarani bahawa Rasulullah SAW juga pernah berdoa : “Ya Allah kuatkan Islam dengan Umar Al-Khatab”

Sebuah hadith dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahawa Rasulullah SAW berkata : “Apabila Umar memeluk Islam, Jibrilpun datang dan berkata : “Ya Muhammad, sesungguhnya seluruh makhluk langit bergembira dengan islamnya Umar”

Setelah memeluk Islam, Rasulullah SAW telah mengelarnya sebagai Al-Faruq kerana dapat membezakan di antara perkara yang benar dan bathil. Ketika ditanya oleh para sahabat bagaimana dia mendapat gelaran tersebut, Saidina Umar menjawab : “Pada suatu hari, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW : “Ya Rasulullah SAW, adakah kita dalam kebenaran ?”

Jawab Rasulullah SAW : “Benar”

Aku berkata lagi : “Kenapakah kita beribadah secara sembunyi ?”

Kemudian kami masuk ke Masjidil Haram membuat dua syaf, satu saya dan satu lagi Saidina Hamzah (berjemaah). Maka semua orang KAFFIR Quraisy melihat ke arah kami berdua dengan perasaan yang sangat marah yang tidak pernah mereka terjadi sebelum ini, lalu Rasulullah SAW mengelarkan aku Al-Faruq !

Dengan islamnya Umar, maka umat Islam yang sebelum itu sentiasa ketakutan menjadi kuat. Mereka telah berani solat secara terang-terangan di BaitulLah khususnya setelah peristiwa di atas. Di samping itu juga, orang Quraisy juga tidak berani menganggu orang Islam yang sedang beribadah kerana takut kepada Umar.

Keberanian Umar

Peristiwa yang menarik perhatian kafir Quraisy Makkah ialah apabila Saidina Umar Al-Khattab mengambil langkah untuk berhijrah secara terang-terangan, berbeza dengan pendirian para sahabat yang lain yang terpaksa berhijrah secara rahsia.

Umar Al-Khattab terkenal sebagai seorang yang berani semasa kafir dan bertambah berani sesudah beriman. Pada detik-detik terakhir sebelum meninggalkan kota Makkah untuk berhijrah ke Madinah, Saidina Ali r.a. yang menyaksikan peristiwa tersebut, meriwayatkan: Setelah saidina Umar membuat keputusan untuk berhijrah, beliau mengambil sebilah pedang disandang di sisi pinggangnya, kemudian dicapainya busar panah lalu disangkut dibahunya, sebatang anak panah tergenggam ditangannya dan melangkahkan kaki menuju ke Kaa’bah. Ketika itu tokoh-tokoh Quraisy sedang bersantai di sisi Ka’abah menyaksikan kehadiran Umar.

Saidina Umar melakukan tawaf tujuh kali dengan penuh semangat tetapi tenang, tanpa menghiraukan tokoh-tokoh kafir Quraisy yang memerhatikannya. Sebaik selesai melakukan tawaf, beliau menuju ke Maqam Ibrahim dan mendirikan solat.
Selesai solat, Umar berdiri di sisi Maqam Ibrahim sambil mengeluarkan kata-kata yang keras dan pedas terhadap puak kuffar Quraisy. kata Umar: “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan membinasakan wajah manusia di dunia ini, kecuali wajah puak-puak jahannam yang memusuhi agama Allah.”

Kata Umar lagi: “Barangsiapa yang sanggup menjadikan ibunya keseorangan disebabkan kematian anak, meletakkan anak-anak mereka menjadi yatim piatu lantaran kematian bapa, sanggup menjadikan isteri kesayangannya menjadi balu kerana kematian suami, marilah kita adu senjata di sebalik bukit ini.”

Cabaran Saidina Umar terhadap tokoh-tokoh Quraisy yang menyaksikan kehadiran Umar dengan pedang terhunus itu, ternyata menimbulkan kesan gerun di dalam hati mereka. Pertama kali mereka mendengar cabaran yang begitu hebat dari Umar, mereka terpegun tanpa seorangpun yang berani menyahut cabaran Umar berlawan senjata.

Dari sudut psikologi, cara Umar mencabar puak Quraisy dengan gaya seorang pahlawan yang bersedia untuk mati, menjadikan puak Quraisy lemah semangat. Mereka membisu tanpa reaksi, sekalipun Umar mengutuk mereka sebagai puak yang bakal dibinasakan Allah SWT. Dalam keadaan puak Quraisy lemah semangat, Umar mengajaknya adu senjata.

Saidina Ali r.a. yang turut mendengar kata-kata Umar itu berkata: Sesudah itu Umar melangkahkan kaki meninggalkan kota Makkah dengan tenang, tanpa dijejaki oleh puak-puak Quraisy. Bagaimanapun peristiwa itu memberi seribu rahmat kepada kaum muslimin yang letih lesu, dari kalangan orang-orang tua, orang-orang sakit yang tidak terdaya meninggalkan kota Makkah tanpa teman. Mereka semua mengambil peluang untuk berhijrah ke Madinah bersama Umar Al-Khattab, dengan aman tanpa sebarang gangguan.

Berikutan dari peristiwa itu, maka kaum muslimin Makkah telah menyahut seruan hijrah. Sehingga tiada lagi para penyokong Nabi s.a.w. yang tinggal di Makkah, kecuali Nabi s.a.w., Saidina Abu Bakar As-Siddiq. Saidina Ali bin Abi Talib, selain itu orang-orang yang sakit, mereka yang tidak kenderaan dan keupayaan berhijrah dan mereka yang dikenakan tahanan oleh pihak Quraisy, akibat tindakan mereka menyahut seruan Islam

Hadith tentang Umar

1. Semasa tidur, aku bermimpi bahawa aku berada dalam Syurga. aku lihat seorang perempuan sedang berwudhuk dekat sebuah istana. Aku bertanya untuk siapa istana ini. Katanya : Untuk Umar” Hadith riwayat Shiekhaini (Bukhari dan Muslim)

2. Sesungguhnya Allah menjadikan lidah dan hati Umar itu di atas kebenaran. Hadith riwayat At-Turmizi

3. Sekiranya selepas aku ada nabi, sudah pasti Umarlah orangnya. Hadith riwayat At-Turmizi

4. Sesungguhnya aku lihat syaitan-syaitan dari kalangan jin dan manusia lari lintang pukang dari Umar. Hadith riwayat At-Turmizi

5. Umar cahaya bagi penduduk Syurga.

6. Semua malaikat di langit menyayangi Umar dan semua syaitan di dunia melarikan diri dari Umar

7. Sesungguhnya ada seseorang di kalangan umat sebelum kamu yang menjadi sebutan ramai (kerana kebaikannya), jika perkara ini terjadi dalam umat Islam, sudah tentu Umarlah orangnya. Hadith riwayat Bukhari.

8. Tidak ada sesuatu perkara yang diperkatakan oleh orang ramai dan kemudian diperkatakan oleh Umar, nescaya turunlah al-Quran sebagaimana yang dilafazkan oleh mulut Umar. (Kata-kata Abdullah bin Umar)

Umar Sebagai Orang Yang Pertama

1. Pertama digelar Amirul Mukminin
2. Pertama menggunakan Hijrah sebagai kalendar Islam
3. Pertama mengenakan pukulan 80 kali ke atas peminum arak
4. Pertama mengharamkan nikah mut’ah
5. Pertama mewajibkan zakat ke atas kuda
6. Pertama menubuhkan jabatan-jabatan
7. Pertama sunatkan Qiyyam Ramadhan
8. Pertama mengarahkan solat Jenazah berjemaah dengan 4 takbir
9. Pertama memperkenalkan Al-’Aul dalam masalah Faraid (harta pusaka)

Umar Dan Al-Quran

Saidina Umar Al-Khattab mempunyai pemikiran yang sangat hebat. Beberapa pendapatnya merupakan sebab turunnya al-Quran. Di antara ayat-ayat al-Quran yang diturunkan sempena pendapat beliau ialah :

1) Kisah tawanan Badar – ayat 28 Surah Al-Anfal
2) Ayat Menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat solat – Ayat 125 Surah Al-Baqarah
3) Ayat Hijab – Ayat 53 Surah Al-Ahzab
4) Ayat tentang asal-usul kejadian manusia – Ayat 12 Surah Al-Mukminun
5) Ayat tentang arak – Ayat 219 Surah Al-Baqarah dan Ayat 43 Surah An-Nisa’
6) Ayat Larangan Mensolati Jenazah Orang Munafiq – Ayat 84 Surah At-Taubah
7) Kisah orang Munafiq – Ayat 6 Surah Al-Munafiqun
8) Ayat 5 Surah Al-Anfal
9) Ayat 16 Surah An-Nur
10) Ayat tentang penghalalan jima’ di malam bulan Ramadhan – Ayat 187 Surah Al-Baqarah
11) Ayat 97 Surah Al-Baqarah
12) Ayat 65 Surah An-Nisa’
13) ayat 13 Surah Al-Waqiah

Aku Hanya Seorang UMAR

Sebelum disapa sinar iman
Kau bagaikan singa yang mengganas
Membunuh anak perempuanmu
Tanpa rasa belas dan kasihan
Dipandu hati sekeras batu
Jahiliah yang menyesatkan

Bila nur Al-Quran menusuk ke jiwa
Lunturlah segala keangkuhanmu
Berubah dan beralih arahmu
Terbentur segala kekejaman
Menjadi wira miskin nestapa
Membela yang tak berupaya

Tidurmu di rimbunan tamar
Tenangmu tiada tercalar
Berbantal lengan tanpa pengawal
Berselimut embun keimanan

Di malam yang hening
Meratap menyesali diri
Pada dosa kealpaan
Dibasuh dengan airmata
Memohon keampunan Tuhan

Engkau khalifah berjiwa hamba
Mentadbir tanpa singgahsana
Menghina diri di hadapan Allah
Kemuliaan diri manusia

Mulia hidup bersulam taqwa
Mulia matimu kau syuhada
Pergi rohmu ke alam tinggi
Terbang menuju ke syurgawi

Aku hanya seorang Umar
Kemuliaanku kerana Islam
Semua ke syurga kecuali dia
Ku bimbangi dialah diriku

Hati sekeras batu
Menjadi selembut air
Jadi teman kebenaran
Jadi musuh pada kebatilan

Nukilan Rasa,
NicenizaR a.k.a Sang Penyair

:::Ilmu Itu CAHAYA, Jahil Itu BAHAYA:::

KEPENTINGAN ILMU PENGETAHUAN DAN SUMBERNYA MENURUT ISLAM

1. Definisi Ilmu Pengetahuan

Perkataan ilmu dari sudut bahasanya adalah berasal daripada perkataan arab iaitu calima, yang bererti mengetahui atau perbuatan yang bertujuan untuk mengetahui tentang sesuatu dengan sebenarnya. Sementara ilmu dari segi istilah memberi erti tentang segala pengetahuan atau kebenaran tentang sesuatu yang datang dari Allah s.w.t yang diturunkan kepada rasul-rasulnya dan alam ciptaannya termasuk manusia yang memiliki aspek lahiriah dan batiniah.

Secara umumnya, ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan dan kepandaian tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut kaedah dan metod tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan sesuatu yang berkait dengan bidang ilmu tersebut. Ilmu pengetahuan pada lazimnya terdapat dalam dua bentuk iaitu ilmu pengetahuan nyata (explicit
knowledge) dan ilmu pengetahuan tidak nyata (tacit knowledge). Ilmu pengetahuan nyata boleh didapati kebanyakannya dalam bentuk dokumen bercetak manakala ilmu pengetahuan tidak nyata pula terdapat dalam idea, minda, amalan harian, pengalaman, memori dan seumpamanya yang kebiasaannya sukar dilihat dengan mata kasar. (Noraziah Sharuddi, 2002)

Dalam zaman moden ini pengertian ilmu telah disempitkan dan dimodenkan kepada pengetahuan maklumat dan kemahiran sahaja. Dalam pengertian barat moden, ilmu hanyalah merujuk kepada pengenalan atau persepsi yang jelas tentang fakta. Fakta pula merujuk kepada perkara-perkara yang boleh ditanggapi oleh pancaindera zahir dan bersifat empiris. Kewujudan perkara lain di luar keupayaan pancaindera tersebut dianggap bukan fakta dan tidak termasuk dalam bidang ilmu. Mengikut pandangan mereka secara automatik ajaran agama terkeluar daripada takrif dan ruang lingkup ilmu dan dianggap sebagai kepercayaan semata-mata.
Islam telah menghimpun antara agama dan ilmu. Tidak ada sebarang penentangan antara agama dan ilmu kerana dalam Islam, agama itu sendiri adalah ilmu dan ilmu adalah agama. Ilmu menurut perspektif Islam dikenali sebagai sifat, proses dan hasil. Manakala istilah ilmu dalam Islam merangkumi pelbagai perkara iaitu al-Quran, syariah, sunnah, iman, ilmu kerohanian, hikmah, makrifat, pemikiran, sains dan pendidikan.

2. Kepentingan Ilmu Pengetahuan

Ilmu merupakan suatu perkara yang penting dalam kehidupan manusia. Perkembangan dan kemajuan sesuatu bangsa di dunia ini berkait rapat dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terdapat pada sesuatu bangsa itu sendiri. Justeru, Islam mengingatkan tentang hakikat ini menerusi pelbagai ayat al-Quran dan hadis Rasulullah s.a.w. Penekanan terhadap kepentingan dan keperluan menuntut ilmu membuktikan bahawa Islam adalah satu agama yang memartabatkan ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu. Baginda Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya; “Menuntut ilmu itu adalah wajib ke atas tiap-tiap orang Islam lelaki dan perempuan.” Berdasarkan hadis tersebut, jelas bahawa menuntut ilmu itu adalah suatu perkara yang penting dan menjadi kewajipan bagi setiap orang Islam. Antara kepentingan ilmu pengetahuan ialah;

2.1 Kedudukan serta martabat orang yang berilmu diangkat dan diletakkan ditempat yang lebih tinggi. Dengan erti kata lain, ilmu dapat mengangkat darjat seseorang kepada darjat yang tinggi di sisi Allah dan masyarakat. Firman Allah s.w.t dalam surah al-Mujadalah, ayat 11 ;
Maksudnya; “Allah mengangkat beberapa darjat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan”

2.2 Ilmu dapat meninggikan dan membezakan taraf di kalangan manusia. Firman Allah dalam surah al-Zumar, ayat 9 ;
Maksudnya; “Katakanlah adakah sama orang-orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya mereka yang mendapat peringatan dan petunjuk hanyalah di kalangan hambanya yang berilmu dan bijaksana”

2.3 Ilmu dapat membentuk keperibadian yang baik dan menjadikan seseorang itu bertaqwa dan cintakan Allah s.w.t dan RasulNya. Firman Allah dalam surah al-Fathir, ayat 28 ;
Maksudnya ; “Sesungguhnya yang takutkan Allah daripada hambanya ialah orang-orang yang berilmu”

2.4 Ilmu pengetahuan akan membawa manusia ke arah kebahagian hidup di dunia dan di akhirat, memberikan kekuatan ketika dalam kesusahan dan ketika berhadapan dengan musuh.

2.5 Dengan ilmu manusia dapat menjalankan ibadah dengan sempurna, samada ibadah umum atau ibadah khusus dan dapat melaksanakan peranan sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan sebaiknya.

2.6 Ilmu agama atau ilmu yang terdapat dalam al-Quran dan Al-sunnah akan menjadi benteng yang dapat mencegah seseorang itu dari melakukan perkara-perkara yang dilarang oleh syariat, dapat menolak kejahilan dan kebodohan sama ada dalam perkara agama atau dalam mengejar kebendaan duniawi.

2.7 Pelbagai jenis ilmu keduniaan seperti ilmu kejuruteraan, ilmu kedoktoran, ilmu pertanian dan sebagainya dapat membantu kemaslahatan hidup manusia di dunia.

2.8 Ilmu adalah salah satu langkah bagi menjana pembangunan negara kerana melalui ilmu sahajalah yang dapat membezakan antara yang hak dan yang batil.

3. Sumber-sumber Ilmu Pengetahuan

Secara umumnya, sumber ilmu pengetahuan adalah diperolehi melalui wahyu, pancaindera, akal dan intuisi atau ilham.

1. Wahyu

Wahyu adalah pemberitahuan daripada Allah s.w.t kepada seorang hambanya yang dipilih di kalangan hambanya dengan secara sulit dan rahsia berlainan dari apa yang dialami oleh manusia biasa. Tidak dapat dinafikan lagi wahyu adalah merupakan sumber pengetahuan yang terpenting yang telah disampaikan oleh Allah s.w.t kepada manusia sama ada ianya disampaikan melalui Nabi Muhammad s.a.w atau melalui nabi-nabi yang terdahulu. Wahyu merupakan teras kepada segala ilmu kerana di dalam al-Quran terkandung pelbagai jenis ilmu pengetahuan yang amat diperlukan oleh manusia untuk kemasalahatan hidup juga perkara-perkara ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal pemikiran manusia.

2. Pancaindera

Semua pancaindera seperti sentuhan, ciuman, penglihatan, pendengaran dan deria rasa merupakan seumber pengetahuan yang utama dan amat berguna bagi manusia untuk berinteraksi dengan alam sekelilingnya dengan mudah dan betul. Kelima-lima pancaindera ini merupakan satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui beberapa percubaan dan pengalaman yang berulang-ulang. Bagaimanapun kebenaran yang diperolehi tidak semestinya selalu betul dan tepat. Pancaindera kadangkala di dalam keadaan tertentu gagal memberikan gambaran atau penglihatan umpamanya matahari kelihatan kecil oleh mata sedangkan kenyataannya adalah sebaliknya.

3. Akal

Akal adalah merupakan sumber utama pengetahuan manusia, malah perbezaan antara manusia dan haiwan adalah melalui hasil tamadun yang diusahakan oleh manusia berpunca dari pemikiran akal manusia yang kreatif. Dengan akal manusia dapat menimbang dan membezakan antara yang baik dan buruk, walaupun mungkin ianya tidak bersifat kebenaran secara mutlak namun ianya memadai untuk mengatasi masalah kehidupan seharian. Bagaimanapun Allah s.w.t menyuruh manusia menggunakan semaksima mungkin kedua-dua daya akal dan pancaindera yang dianugerahkan kepadanya agar dapat sampai kepada pengetahuan sahih dan kebenaran yang tidak menyesatkan. Al-Quran banyak menyebut seruan serta galakan daripada Allah s.w.t agar manusia dapat memerhatikan alam sekeliling mereka dengan akal dan pancaindera bagi mencari kebenaran yang hakiki.

4. Intuisi atau Ilham

Intuisi atau ilham juga boleh menjadi sumber pengetahuan manusia yang amat berguna. Ianya merupakan pengetahuan yang diperolehi tanpa melalui proses pemikiran yang tertentu. Contohnya seseorang yang mempunyai masalah yang sedang menumpukan pemikiran nya terhadap penyelesaian masalah tersebut, tiba-tiba menjadi jalan penyelesaian tanpa perlu berfikir panjang seolah-olah kebenaran yang dicari datang sendiri. Dalam Islam ilham ini boleh dikenali dengan istilah “firasat” atau pun pandangan bashirah (tembus) yang dikurniakan oleh Allah kepada para Ulama.

Walaupun begitu, ada juga di kalangan sarjana yang berpendapat bahawa sumber ilmu itu datangnya juga daripada sumber lisan dan tulisan serta kajian sejarah. Ilmu yang diperolehi melalui sumber lisan wujud dalam sistem pendidikan secara tidak formal seperti ilmu pertukangan dan sebagainya yang diperolehi melalui warisan secara tidak langsung daripada keluarga atau masyarakat. Pengajaran-pengajaran secara lisan daripada tokoh-tokoh ilmu juga dianggap sebagai sumber lisan. Ilmu yang sumbernya dari tulisan dapat dilihat melalui ilmu perubatan, matematik, dan undang-undang. Sementara ilmu yang diperolehi daripada kajian sejarah pula dapat dilihat melalui kajian-kajian dan penulisan-penulisan yang khusus tentang peristiwa sejarah yang telah berlaku.

NicenizaR a.k.a Sang Penyair
KNMS

PUISI : SYUKUR SYAWAL

SYUKUR SYAWAL

Sejak Bila Hati Menangis,
Mengenang Maaf Yang Tak Pernah Tertulis….

Jiwa Ini Mampu Bercerita,
Seribu Janji Seribu Nada,
Ilham Pembuka Tinta Berbicara,
SYUKUR SYAWAL Empunya Cereka…

Bergema Laungan Takbir Aidilfitri,
Memecah Sunyi Alam Dihuni,
Sekian Lama Telah Diuji,
Kini Kemenangan Yang Dirai…

Masih Leka Di Senjakala,
Masih Alpa Ketika Bersenda,
Kadangkala Bergurau Terusik Jiwa,
Maaf Dipinta Andai Terasa…

Syukur Syawal Masih Bernyawa,
Mohon Agar Bertemu Semula,
Andai Ini Terakhir Bersua,
Doa Agar Aman DiSANA…

Keampunan Jiwa Tulus Setia,
Kemaafan Hati Tanda Ceria,
Usah Memohon Terluka Sahaja,
Amalkan Selalu Supaya Bahagia…

Lena Diulit Dendam Durjana,
Hapuskan Dengan Airmata Gembira,
Syukur Syawal Temukan Kita,
Kerana DIA Yang Maha ESA…

~N.I.C.E.N.I.Z.A.R~